Pemerintahan Iraq Buka Suara Mengenai Serangan Udara oleh AS di Perbatasan Iraq dan Syria

By Nad

nusakini.com - Internasional - Perdana Menteri Iraq, Mustafa al-Kadhemi mengutuk serangan udara yang diluncurkan Amerika Serikat terhadap kelompok bersenjata dukungan Iran di Iraq dan Syria, dimana dikabarkan bahwa serangan tersebut menewaskan paling tidak tujuh pejuang.

Melalui pernyataan pada hari Minggu (27/6), Pentagon AS mengatakan bahwa penyerangan tersebut menargetkan fasilitas operasional dan senjata di dua lokasi di Syria dan satu lokasi di Iraq sebagai balasan dari serangan drone terhadap pasukan AS di Iraq.

Penyerangan ini diperintahkan oleh Presiden AS, Joe Biden. Peristiwa ini adalah kali kedua ia memerintahkan penyerangan balasan terhadap kelompok bersenjata dukungan Iran semenjak menjabat lima bulan yang lalu.

Kantor Perdana Menteri Iraq menyatakan bahwa mereka 'mengutuk' serangan udara yang diluncurkan AS yang menargetkan daerah di perbatasan Iraq dan Syria. Serangan ini menunjukkan pelanggaran kedaulatan dan keamanan nasional Iraq yang sangat jelas dan tidak bisa diterima.

Juru bicara Pentagon, John Kirby, menyampaikan bahwa Kataib Hezbollah dan Kataib Sayyid al-Shuhada adalah faksi militer yang termasuk kedalam kelompok bersenjata dukungan Iran dan mereka menggunakan fasilitas yang diserang.

Menurutnya, serangan udara 'perlu' dilakukan AS untuk mengirimkan pesan yang jelas dan tidak ambigu kepada kelompok bersenjata dukungan Iran yang sudah beberapa kali mengirimkan serangan drone kepada pasukan AS.

Pernyataan Kirby tidak membahas korban tewas dan luka, namun kelompok pengamat asal Inggris menyatakan bahwa paling tidak tujuh pejuang kelompok tewas dan beberapa lainnya terluka. Perusahaan berita Syria, SANA, mengatakan bahwa satu anak-anak tewas dan 3 lainnya luka-luka.

Dua pejabat militer Iraq menyampaikan kepada perusahaan berita The Associated Press di Baghdad bahwa 4 tentara terbunuh di perbatasan Syria.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, juga memberikan tanggapan terhadap penyerangan. Ia menyatakan AS tetap berjalan di arah yang salah. Ia juga menambahkan bahwa penyerangan tersebut adalah sanksi dan juga akibat dari mengikuti kebijakan yang salah dari pemerintah sebelumnya.

Biden dan pihak Gedung Putih menolak untuk mengomentari serangan udara ini. (dd)